Logo KAKAWINEnsiklopedia sastra dan budaya
Artikel budaya · Bahasa Indonesia

Kakawin

Kakawin merupakan puisi klasik Jawa Kuno yang ditulis dengan pola metrum dan menjadi salah satu warisan penting sastra Nusantara. Artikel ini merangkum pengertian, sejarah, bahasa Kawi, guru-laghu, wirama, contoh karya seperti Sutasoma dan Nagarakretagama, serta sumber-sumber bacaan dari lembaga dan koleksi naskah.

Halaman KAKAWIN ini merupakan artikel independen bertema budaya, bukan bagian dari Wikimedia atau Wikipedia.

Ilustrasi utama KAKAWIN tentang sastra Jawa Kuno
Ilustrasi KAKAWIN — sastra, cerita, dan jejak budaya Nusantara.

Pengertian Kakawin dalam Sastra Jawa Kuno

Kakawin adalah bentuk puisi klasik berbahasa Jawa Kuno yang disusun memakai aturan metrum atau ukuran irama tertentu. Kata ini berkaitan dengan kawi, sebutan yang berhubungan dengan penyair dan tradisi kepujanggaan. Dalam perkembangannya, kakawin menjadi sarana penyampaian kisah kepahlawanan, ajaran kebajikan, pandangan keagamaan, serta gambaran kehidupan kerajaan di Nusantara.

Berbeda dari puisi bebas modern, kakawin memperhatikan panjang-pendek atau berat-ringannya suku kata. Pengaruh kaidah puisi Sanskerta tampak dalam penggunaan metrum, tetapi karya yang dihasilkan merupakan bagian dari tradisi sastra Jawa Kuno dengan corak, pengolahan cerita, dan konteks budaya setempat. Baca pengantar Kakawin di Wikipedia bahasa Indonesia.

Makna kata Kawi dan Kakawin

Secara umum, istilah kawi menunjuk penyair atau orang yang menggubah karya sastra. Kakawin merujuk pada hasil ciptaan puitis tersebut, khususnya puisi bermetrum yang berkembang dalam kesusastraan Jawa Kuno. Tidak setiap teks berbahasa Kawi otomatis disebut kakawin: bentuk puisi dan kaidah metrum merupakan pembeda yang penting.

Makna istilah kakawin dan kawi

Secara etimologis, istilah kakawin berhubungan dengan kawi, yaitu penyair, dan pembentukan kata dalam bahasa Jawa Kuno. Pemakaian istilah ini merujuk pada karya puisi yang disusun menurut kaidah sastra tertentu, bukan sekadar setiap tulisan berbahasa Jawa. Sebuah kakawin dapat berupa kisah yang panjang, pujian, ajaran kebajikan, atau refleksi spiritual.

Istilah bahasa Kawi sering dipakai dalam pembicaraan populer mengenai bahasa Jawa Kuno. Namun, perlu dibedakan antara bahasa yang menjadi medium penulisan dan kakawin sebagai bentuk karya sastra. Bahasa Jawa Kuno juga digunakan untuk bentuk prosa seperti parwa.

Fungsi sastra di lingkungan kerajaan

Kakawin dapat mengandung teladan kepemimpinan, penggambaran alam, percakapan tokoh, dan uraian tentang tatanan sosial. Isi sebuah kakawin tidak boleh otomatis dianggap sebagai laporan faktual: ada konvensi puitika, simbol, pengagungan raja, serta unsur kisah yang memerlukan pembacaan kritis dan perbandingan dengan sumber sejarah lain.

Asal-usul dan Sejarah Perkembangan Kakawin

Tradisi kakawin berkembang dalam lingkungan budaya Hindu-Buddha di Jawa dan kemudian terus diwariskan, dipelajari, serta disalin, termasuk dalam tradisi pernaskahan Bali. Pengaruh kesusastraan Sanskerta terlihat pada pilihan metrum dan sebagian bahan cerita, sedangkan penggubah Jawa Kuno menghadirkan gaya bahasa dan penafsiran yang khas.

Kakawin hadir sepanjang berbagai periode kerajaan, bukan hanya pada masa Majapahit. Salah satu karya penting dari lingkungan Jawa Timur adalah Arjunawiwaha, yang biasanya dikaitkan dengan Mpu Kanwa dan masa Airlangga. Pada masa berikutnya, Bharatayuddha, Sutasoma, serta Nagarakretagama memperlihatkan keragaman fungsi kakawin: karya naratif, pembawa pesan etika dan religius, maupun penggambaran kehidupan istana.

Kakawin dan kehidupan kerajaan

Kisah yang dituturkan tidak selalu berupa catatan sejarah harfiah. Unsur pengagungan raja, pengolahan mitologi, simbol keagamaan, dan konvensi sastra dapat hadir bersamaan. Karena itu, para peneliti menggunakan kakawin bersama prasasti, peninggalan arkeologis, serta sumber sejarah lain saat merekonstruksi masa lampau.

Jejak perkembangan dari Jawa Tengah sampai Majapahit

Tradisi kakawin berkembang setidaknya sejak periode Jawa Tengah sekitar abad ke-9. Kakawin Ramayana sering ditempatkan di antara contoh paling awal. Pada masa Jawa Timur, tradisi ini berlanjut dan menghasilkan karya-karya yang berkaitan dengan istana, etika kesatria, dan pengolahan kisah epik. Di lingkungan Kediri, misalnya, dikenal Bharatayuddha; pada masa Majapahit dikenal Sutasoma dan Desawarnana atau Nagarakretagama.

Tanggal pembuatan dan identifikasi pengarang tidak selalu sama tingkat kepastiannya. Sebagian didukung keterangan dalam teks atau penelitian filologis, sementara sebagian lainnya merupakan perkiraan akademis. Karena itu, pembaca perlu melihat masing-masing karya secara terpisah.

Hubungan sastra Sanskerta dan pengolahan lokal

Pengaruh India tampak dalam kosakata, nama tokoh, kerangka cerita, serta teori metrum. Akan tetapi, kakawin bukan hanya hasil penyalinan kisah luar. Para pujangga mengolah kembali bahan cerita menggunakan rasa bahasa Jawa Kuno, simbol lingkungan lokal, dan kebutuhan masyarakat tempat karya itu diproduksi.

Perjalanan tradisi ke Bali

Kelangsungan kakawin tidak berhenti ketika pusat kekuasaan politik di Jawa berubah. Di Bali, berbagai kakawin disalin, dibaca, diulas, dan diwariskan lintas generasi. Penelitian Perpustakaan Nasional terhadap Sumanasantaka memperlihatkan betapa pentingnya tradisi penyalinan Bali: sejumlah saksi naskah karya itu justru berasal dari Bali.

Ciri-ciri Kakawin: Guru-Laghu, Wirama, dan Struktur Bait

Kakawin dikenal melalui pilihan kata puitis, susunan bait teratur, dan metrum yang memperhitungkan pola suku kata. Banyak bait kakawin tersusun atas empat larik, meskipun aturan detailnya bergantung pada jenis metrum yang digunakan.

Apa itu guru dan laghu?

Dalam pembahasan metrum, guru menunjuk suku kata berat, sedangkan laghu menunjuk suku kata ringan. Pembedaan ini dapat berkaitan dengan panjang vokal dan struktur suku kata; aturan persisnya perlu dipahami menurut kaidah prosodi yang diterapkan. Polanya menentukan bagaimana setiap larik dibentuk.

Pengertian wirama dan pupuh

Wirama adalah pola metrum yang mengatur susunan suku kata dalam puisi. Pupuh adalah bagian atau kelompok bait dalam karya. Pergantian wirama dapat dipakai untuk membangun perubahan suasana, penekanan, atau bagian cerita.

Ciri bahasa dan isi

  • Bahasa: terutama Jawa Kuno dengan kosakata dan pengaruh sastra Sanskerta.
  • Bentuk: bait-bait bermetrum dengan susunan bunyi yang teratur.
  • Tema: kepahlawanan, ajaran moral, agama, cinta, pemerintahan, dan kehidupan masyarakat.
  • Gaya: metafora, perbandingan, pelukisan alam, serta ungkapan simbolik.
Membaca kakawin berarti memahami cerita dan makna sekaligus memperhatikan seni penyusunan bunyi serta bentuk puisinya.

Memahami suku kata guru dan laghu

Secara sederhana, guru menunjuk suku kata berat dan laghu menunjuk suku kata ringan dalam sistem prosodi. Penentuannya berkaitan dengan sifat vokal dan struktur suku kata, bukan hanya dengan keras atau pelannya suara ketika dibaca. Pilihan pola membedakan metrum atau wirama yang digunakan penyair.

Pupuh, bait, dan larik

Kakawin umumnya terbagi atas bagian yang disebut pupuh. Dalam sebuah metrum, bait lazim berisi empat larik; ketentuan jumlah suku kata dan pola berat-ringan mengikuti aturan metrum itu. Pergantian pupuh memungkinkan variasi ritme sesuai alur narasi, adegan, atau suasana. Teks yang sampai kepada kita dapat menunjukkan perbedaan ejaan dan pembagian akibat sejarah penyalinannya.

Bahasa puitis dan gaya penggambaran

Pembaca akan menjumpai pengandaian, perumpamaan, deskripsi alam, kekaguman terhadap tokoh, serta ungkapan perasaan yang padat. Unsur-unsur ini perlu dibaca bersama konteks budaya dan genre karya. Teks pujian raja memiliki tujuan berbeda dengan kakawin yang berisi petunjuk moral.

Perbedaan kakawin, kidung, dan macapat

Kakawin biasanya menggunakan bahasa Jawa Kuno serta pola prosodi guru-laghu yang dipengaruhi teori metrum India. Kidung kerap dikaitkan dengan tradisi bahasa Jawa Pertengahan dan aturan tembang berbeda. Macapat dikenal melalui ketentuan guru gatra, guru wilangan, serta guru lagu dalam tradisi tembang Jawa. Ketiganya berhubungan dengan sejarah puisi Nusantara, tetapi bukan istilah yang dapat dipertukarkan begitu saja.

Contoh Kakawin Terkenal dan Isi Ceritanya

Berikut beberapa karya yang sering menjadi pintu masuk pembelajaran sastra Jawa Kuno.

1. Kakawin Ramayana

Adaptasi kisah Rama dan Sita dalam tradisi Jawa Kuno. Karya ini menunjukkan bagaimana bahan cerita dari tradisi India diolah menjadi puisi dengan bentuk dan pengucapan khas Jawa Kuno.

2. Kakawin Arjunawiwaha

Karya yang dikaitkan dengan Mpu Kanwa pada masa Airlangga. Kisahnya memuat tapa dan ujian Arjuna, pertarungan melawan ancaman, serta gagasan mengenai pengendalian diri dan tugas seorang ksatria.

3. Kakawin Bharatayuddha

Menceritakan perang besar antara Pandawa dan Korawa dari tradisi Mahabharata. Teks ini lazim dihubungkan dengan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh dalam konteks kerajaan Kediri.

4. Kakawin Sutasoma

Disusun oleh Mpu Tantular pada masa Majapahit, karya ini mengisahkan Sutasoma dan dikenal karena ungkapan Bhinneka Tunggal Ika. Museum Nasional Indonesia mengaitkan teks ini dengan gagasan toleransi dan hidup berdampingan dalam perbedaan. Baca penjelasan Museum Nasional tentang Kakawin Sutasoma.

5. Kakawin Nagarakretagama atau Desawarnana

Digubah oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365. Karya ini memuat gambaran tentang Hayam Wuruk, perjalanan kerajaan, tempat-tempat yang dikunjungi, dan berbagai aspek kehidupan Majapahit. Desawarnana merupakan nama yang dipakai dalam teks; Nagarakretagama menjadi nama yang lebih populer. Pelajari naskah Nagarakretagama di Wikisumber.

6. Kakawin Nitisastra

Kakawin Nitisastra berisi ajaran moral, budi pekerti, etika pergaulan, dan panduan perilaku yang ditujukan kepada berbagai kalangan masyarakat. Buku Kakawin Nitisastra: Teks, Terjemahan, dan Komentar diterbitkan oleh Penerbit BRIN pada 2023 dan dapat menjadi rujukan bagi pembaca yang ingin mempelajari teks serta penafsirannya. Lihat katalog buku Penerbit BRIN.

Karya Kakawin Lain yang Layak Dikenal

Daftar kakawin tidak berhenti pada lima atau enam judul populer. Sejumlah karya lain memperlihatkan keragaman tema, corak penulisan, dan sejarah penyalinan.

Kakawin Sumanasantaka

Karya yang dikaitkan dengan Mpu Monaguna ini menuturkan kisah yang melibatkan tokoh Aja dan Indumati dalam tradisi cerita yang dipengaruhi sastra Sanskerta. Penelitian Agung Kriswanto di jurnal Jumantara menempatkan penyusunannya di Jawa Timur sekitar 1204 dan membahas persebaran naskahnya, terutama dalam tradisi Bali. Baca kajian Perpustakaan Nasional.

Kakawin Hariwangsa dan Gatotkacasraya

Kedua judul tersebut menunjukkan pengolahan cerita tokoh-tokoh yang terkait dengan kisah Mahabharata dan tradisi Wisnu. Kajian kesusastraan sering menghubungkannya dengan Mpu Panuluh, walaupun identitas pengarang dan konteks teks perlu dirujuk melalui edisi ilmiah masing-masing.

Kakawin Siwaratrikalpa

Karya yang dikaitkan dengan Mpu Tanakung ini menonjolkan tema keagamaan dan kekuatan praktik bakti. Dengan membaca ragam kakawin seperti ini, pembaca dapat melihat bahwa karya puitis Jawa Kuno juga memuat refleksi teologis di samping perang dan kepahlawanan.

Kakawin Sena dan tradisi Merapi-Merbabu

Artikel Lilis Restinaningsih membicarakan sebuah naskah berjudul "Kakawin" Sena dalam korpus Merapi-Merbabu. Judul penelitian itu memakai tanda kutip dan menjelaskan konteks Jawa Baru, sehingga tidak tepat menganggap semua naskah dengan nama kakawin berasal dari periode yang identik. Lihat artikel Jumantara.

Kakawin, Kerajaan Majapahit, dan Bhinneka Tunggal Ika

Sutasoma dan pesan hidup berdampingan

Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular ditulis dalam lingkungan Majapahit pada akhir abad ke-14. Museum Nasional menerangkan keterkaitannya dengan gagasan harmoni antara tradisi Siwa dan Buddha, serta mencatat bahwa ungkapan Bhinneka Tunggal Ika berasal dari pupuh 139 bait 5. Ungkapan itu kemudian mendapatkan makna baru sebagai semboyan negara Indonesia. Penting untuk membedakan makna dalam konteks keagamaan teks kuno dan penafsirannya dalam kehidupan kebangsaan modern.

Nagarakretagama sebagai sumber tentang pemerintahan

Nagarakretagama, yang juga dikenal sebagai Desawarnana, digubah pada 1365 dan memuat gambaran perjalanan Hayam Wuruk, wilayah, upacara, serta dunia istana. Karena bentuknya puisi pujian, peneliti menafsirkan informasinya bersama bukti sejarah lain, bukan membacanya sebagai dokumen administratif yang sepenuhnya netral.

Pengakuan arsip dunia UNESCO

Naskah Nagarakretagama masuk daftar Memory of the World UNESCO pada 2013. Pencatatan ini menunjukkan pentingnya warisan dokumenter tersebut bagi kajian sejarah dan kebudayaan. Dokumen nominasi UNESCO juga menguraikan konteks perjalanan raja dan posisi manuskrip sebagai koleksi langka di Perpustakaan Nasional. Lihat daftar UNESCO dan dokumen nominasi.

Warisan Kakawin bagi Budaya Jawa, Bali, dan Indonesia

Tradisi kakawin memiliki jejak panjang dalam bahasa, kesusastraan, dan kebudayaan Nusantara. Naskah-naskahnya dipelajari melalui filologi, yakni kajian terhadap teks dan sejarah transmisinya, serta melalui linguistik, sastra, agama, dan sejarah. Pelestarian naskah dalam tradisi Bali juga menjadi bagian penting dari keberlanjutan warisan Jawa Kuno.

Dari Sutasoma ke semboyan Bhinneka Tunggal Ika

Ungkapan Bhinneka Tunggal Ika dalam Kakawin Sutasoma berkaitan dengan pembahasan kesatuan dan perbedaan dalam konteks ajaran Siwa dan Buddha. Di Indonesia modern, ungkapan tersebut diangkat sebagai semboyan nasional dan dimaknai sebagai persatuan dalam keberagaman. Sumber: Museum Nasional Indonesia.

Nagarakretagama dan sejarah Majapahit

Nagarakretagama merupakan sumber yang berharga untuk mempelajari gambaran Majapahit pada masa Hayam Wuruk. Naskahnya juga tercatat dalam program Memory of the World UNESCO, menandakan arti pentingnya sebagai warisan dokumenter. Pembaca tetap perlu membedakan pelukisan sastra, pujian kepada penguasa, dan temuan sejarah yang dapat diverifikasi secara terpisah.

Bagaimana cara mempelajari Kakawin?

Mulailah dari ringkasan cerita, kemudian bandingkan dengan edisi teks dan terjemahan yang diterbitkan lembaga ilmiah. Kenali istilah seperti pupuh, wirama, guru-laghu, dan kawi. Untuk memeriksa konteks sejarah atau penanggalan, gunakan sumber penelitian dan katalog naskah sebagai pendamping.

Filologi: bagaimana teks kuno diteliti?

Filologi mempelajari saksi naskah, variasi bacaan, bahasa, serta sejarah pemindahan suatu teks. Peneliti membandingkan salinan ketika tersedia lebih dari satu naskah, memperhatikan kerusakan dan bagian yang hilang, lalu menyusun edisi kritis atau terjemahan dengan catatan. Hasilnya membantu pembaca membedakan isi karya, interpretasi modern, dan kemungkinan kesalahan penyalinan.

Naskah lontar, perpustakaan, dan pelestarian

Banyak teks Jawa Kuno bertahan berkat tradisi penyimpanan dan penyalinan naskah, termasuk lontar. Bahan fisik dapat rusak karena iklim, usia, dan penanganan sehingga katalogisasi, konservasi, digitalisasi, dan penerjemahan berperan penting. Koleksi naskah Merapi-Merbabu yang diteliti dalam jurnal Jumantara memperlihatkan keragaman jenis manuskrip dan perjalanan koleksi hingga tersimpan di Perpustakaan Nasional.

Cara membaca kakawin untuk pemula

  1. Mulai dari ringkasan isi dan identifikasi tokoh atau konteks zamannya.
  2. Bandingkan terjemahan dengan catatan kata Jawa Kuno yang sulit.
  3. Pelajari istilah pupuh, wirama, guru, dan laghu secara bertahap.
  4. Perhatikan apakah uraian berupa kisah puitis, pujian raja, atau keterangan historis.
  5. Bandingkan penjelasan dari penerbit akademis, museum, jurnal, dan edisi naskah.

Kajian, Terjemahan, dan Cara Memeriksa Sumber Kakawin

Peran penerjemahan

Terjemahan memudahkan pembaca modern memahami cerita, tetapi tidak selalu dapat mempertahankan rima, ritme, permainan makna, dan susunan metrum naskah aslinya. Karena itu edisi yang memuat teks asli, transliterasi, terjemahan, dan komentar jauh lebih berguna daripada ringkasan tanpa sumber.

Contoh buku akademis: Kakawin Nitisastra

Penerbit BRIN menerbitkan Kakawin Nitisastra: Teks, Terjemahan, dan Komentar karya Miswanto pada 29 Desember 2023, dengan DOI 10.55981/brin.688. Buku ini mengulas moralitas, etika pergaulan, budi pekerti, serta ajaran bagi masyarakat dan penguasa. Karya demikian membantu memperlihatkan fungsi kakawin sebagai sumber pembelajaran nilai, bukan semata hiburan cerita.

Apa yang harus diperhatikan ketika menemukan kutipan?

Pastikan judul teks, nama pupuh, nomor bait, penulis atau penyunting edisi, dan terjemahannya tersedia. Bentuk ejaan dapat beragam: contohnya Nagarakretagama, Nāgarakṛtāgama, dan Desawarnana. Variasi transliterasi tidak selalu menunjuk karya yang berbeda. Jangan menyimpulkan usia sebuah naskah salinan sama dengan tanggal karya aslinya digubah.

Sumber primer dan sekunder

Sumber primer dapat berupa teks dan manuskrip, sedangkan sumber sekunder mencakup kajian ilmiah, katalog, atau artikel museum. Artikel ensiklopedia berguna sebagai titik awal, tetapi untuk detail sejarah serta terjemahan sebaiknya dirunut ke penelitian yang mencantumkan metodologi dan bibliografi.

KAKAWIN di Internet: Informasi, Login, Daftar, dan Istilah Pencarian

Kata kakawin memiliki makna yang jelas dalam kesusastraan Jawa Kuno. Di internet, pengguna juga mungkin menemukan pencarian seperti kakawin login, kakawin daftar, atau kakawin slot online. Frasa-frasa tersebut merupakan istilah navigasi atau pencarian terkait layanan digital, bukan istilah teknis dalam filologi, sejarah, ataupun teks kakawin klasik.

Apa yang dicari melalui "kakawin login"?

Pencarian tersebut umumnya bermaksud menemukan halaman masuk ke suatu layanan bernama KAKAWIN. Untuk keamanan, periksa alamat domain, koneksi HTTPS, dan identitas pengelola sebelum mengisi data akun. Artikel sejarah ini tidak menjadi bukti legitimasi suatu layanan hanya karena nama yang dipakai sama.

Apa arti pencarian "kakawin daftar"?

Frasa ini biasanya mengarah pada proses pembuatan akun di platform digital. Sebelum mendaftar di layanan apa pun, tinjau syarat penggunaan, kebijakan privasi, dan ketentuan usia yang berlaku. Jangan membagikan kata sandi atau kode verifikasi kepada pihak lain.

Mengapa ada pencarian "kakawin slot online"?

Penggunaan kata KAKAWIN sebagai nama atau merek sebuah layanan hiburan digital berbeda dari pengertian kakawin sebagai puisi Jawa Kuno. Pembaca perlu membedakan konten edukasi sastra dengan promosi perjudian atau layanan komersial. Ketersediaan layanan, legalitas, dan risikonya tidak dapat disimpulkan dari artikel sastra ini.

Bagian ini disediakan untuk menjelaskan perbedaan maksud pencarian, bukan sebagai rujukan akademis mengenai sastra Kakawin.

Pertanyaan Umum tentang Kakawin

Apa yang dimaksud dengan Kakawin?

Kakawin ialah puisi klasik berbahasa Jawa Kuno yang mengikuti aturan metrum dan sering mengangkat kisah naratif, nilai moral, serta ajaran keagamaan.

Apakah Kakawin sama dengan bahasa Kawi?

Tidak. Kakawin adalah bentuk karya sastra, sedangkan bahasa Kawi biasanya merujuk pada bahasa Jawa Kuno atau ragam bahasa sastra yang digunakan dalam tradisi tersebut.

Apa perbedaan Kakawin dan kidung?

Keduanya merupakan bentuk sastra puisi tradisional, tetapi kakawin mengikuti pola metrum yang dipengaruhi prosodi Sanskerta, sedangkan kidung memakai konvensi metrum yang berbeda dalam tradisi sastra Jawa-Bali.

Apa itu guru-laghu?

Guru adalah suku kata berat dan laghu suku kata ringan dalam susunan metrum; pengaturannya membantu membentuk wirama bait.

Siapa pengarang Kakawin Sutasoma?

Mpu Tantular, pujangga pada masa Majapahit.

Siapa pengarang Nagarakretagama?

Mpu Prapanca, yang menggubah karya tersebut pada tahun 1365.

Apa saja contoh Kakawin?

Di antaranya Ramayana, Arjunawiwaha, Bharatayuddha, Sutasoma, Nagarakretagama, dan Nitisastra.

Apakah kakawin sama dengan kidung?

Tidak. Kakawin berhubungan dengan tradisi puisi Jawa Kuno dan metrum guru-laghu, sedangkan kidung dalam sejarah sastra Jawa memiliki konvensi bahasa dan bentuk tembang yang berbeda.

Siapa penulis Kakawin Sutasoma?

Kakawin Sutasoma dikaitkan dengan Mpu Tantular dari periode Majapahit. Di dalamnya terdapat ungkapan Bhinneka Tunggal Ika yang kemudian dipakai sebagai semboyan Indonesia.

Kapan Kakawin Nagarakretagama ditulis?

Karya itu digubah pada tahun 1365 dan dikenal pula sebagai Desawarnana. Manuskripnya mendapat pengakuan UNESCO Memory of the World pada 2013.

Apa perbedaan kakawin dan bahasa Kawi?

Kakawin ialah bentuk karya puisi dengan aturan metrum; bahasa Kawi adalah istilah yang kerap dipakai untuk menyebut bahasa Jawa Kuno yang digunakan dalam banyak karya tersebut.

Apakah kakawin login dan kakawin daftar bagian dari sastra Jawa Kuno?

Bukan. Keduanya adalah frasa pencarian untuk akses akun pada layanan digital yang mungkin memakai nama KAKAWIN.

Apakah kakawin slot online termasuk jenis kakawin?

Bukan. Itu istilah terkait layanan digital, tidak termasuk kategori puisi Jawa Kuno ataupun jenis naskah kakawin.

Di mana bisa membaca penelitian kakawin?

Mulai dari katalog Penerbit BRIN, jurnal Jumantara Perpustakaan Nasional, koleksi Museum Nasional, dan arsip UNESCO yang ditautkan pada referensi halaman ini.

Jelajahi KAKAWIN

Akses halaman terkait KAKAWIN melalui tombol di bawah ini. Tautan keluar menuju situs lain.

Referensi dan Bacaan Lanjutan

Rujukan di bawah membantu pembaca menelusuri definisi, edisi teks, penelitian, dan informasi sejarah yang terkait dengan kakawin. Tautan menuju situs pihak ketiga.

  1. Wikipedia bahasa Indonesia — Kakawin, ringkasan pengertian dan ragam kakawin.
  2. Penerbit BRIN — Kakawin Nitisastra: Teks, Terjemahan, dan Komentar, karya Miswanto, terbit 2023.
  3. Museum Nasional Indonesia — Kakawin Sutasoma, tentang Mpu Tantular dan Bhinneka Tunggal Ika.
  4. Wikisumber — Kakawin Nagarakretagama, latar naskah dan hubungan dengan Desawarnana.
  5. Katalog Perpustakaan Universitas 17 Agustus 1945 Semarang — Kakawin Nagarakertagama: Teks dan Terjemahan.
  6. Wikimedia Commons — Koleksi media Nagarakretagama, penelusuran foto dan materi visual dengan ketentuan lisensi masing-masing.
  7. Jumantara Perpusnas — “Kakawin” Sena, kajian naskah Merapi-Merbabu.
  8. Jumantara Perpusnas — Sebuah Catatan tentang Kakawin Sumanasantaka, penelitian tradisi manuskrip Jawa dan Bali.
  9. UNESCO Memory of the World — Nāgarakrĕtāgama, daftar inskripsi tahun 2013.
  10. UNESCO — Dokumen nominasi Nagarakretagama, keterangan naskah dan sejarahnya.
  11. S. Supomo — Lord of the mountains in the fourteenth century kakawin, artikel akademis tentang sastra Majapahit.
  12. Wikipedia bahasa Inggris — Kakawin, pengantar istilah dan daftar karya.
© KAKAWIN — Halaman informasi independen. Tampilan bergaya ensiklopedia, tidak berafiliasi dengan Wikipedia. Informasi disajikan sebagai pengantar, bukan pengganti kajian naskah asli.